Selasa, 18 Januari 2011

Pandangan Tokoh


Mohammad Natsir:
Ustad Rusyad Prajurid Pembawa Bendera

Masih tampak-tampak rasanya Rusyad mengepit-ngepit buku waktu sekolah MULO Pendis (SMP Pendidikan Islam) yang saya pimpin di Lengkong Besar di Bandung. Ia termasuk murid-murid yang serius. Tak banyak ngomong. Tenang-tenang saja, asal ‘tali kupingnya’ tidak tersinggung. Bila terjadi yang demikian, dia bangun. Tampak kepribadiannya untuk mempertahankan apa yang diyakininya sebagai barang hak.
Waktu dia tamat sekolah Kweekschool (Sekolah Guru) Pendis dengan angka-angka yang baik, dianggapnya sebagai barang yang logis saja bila dia harus memberikan tenaga untuk membina lembaga pendidikan swasta ini: Pendidikan Islam yang ingin melaksanakan satu sistem alternatif. Alternatif dari sistem pendidikan yang menitikberatkan kepada pembentukan pribadi. Pribadi yang berkeseimbangan daya fikir dan hati nuraninya, seimbang daya cipta dan taat tawakal kepada Allah SWT.

Lembaga pendidikan ini terdiri dari Taman Kanak-Kanak, Sekolah Rakyat, Sekolah Menengah Pertama, dan Sekolah Guru dalam satu kompleks. Tapi hanya dapat berumur 10 tahun karena ditutup oleh Pemerintah Jepang, waktu Jepang masuk ke Indonesia di tahun 1942. Pada tahap pertama semua sekolah, sekolah pemerintah ataupun swasta ditutup termasuk Pendidikan Islam, dimana Rusyad sudah turut menyumbangkan tenaganya sebagai guru. Pesantren-pesantren tidak diganggu oleh Jepang.
Zaman beredar. Jepang kalah, Belanda hendak kembali. Kita proklamirkan Republik Indonesia. Perang gerilya dengan Belanda mulai. Rusyad meninggalkan kota Bandung bersama-sama dengan pejuang-pejuang kemerdekaan lainnya, dan sama-sama menyusun kekuatan untuk perang gerilya di pedalaman.
Musim berganti pula. Perjuangan senjata disambung dengan perjuangan di meja perundingan, Linggarjari, Renville. Jawa Barat dikosongkan dari TRI, pindah ke daerah Yogyakarta.
Umat yang merasa ditinggalkan memerlukan bimbingan. Rusyad beserta teman-temannya tetap di pedalaman ibarat penjaga gawang. Umat memerlukan bimbingan, lebih-lebih di saat-saat demikian itu.
Akhirnya perjuangan di papan catur diplomasi berhasil. Kedaulatan Republik Indonesia diakui dunia. Tapi, Republik masih meninggalkan luka-luka dari perjuangan kemerdekaan.
Rusyad Nurdin kembali ke pesantren Persis.
Yang dirasakan lambat laun adalah keperluan adanya lembaga pendidikan Islam tingkat universitas untuk menampung lepasan madrasah ‘Aliyah dan sekolah-sekolah tingkat SLTA lainnya.
Bersama-sama dengan teman seperjuangannya seperti Ustadz Qomaruddin, Ali Dahlan, Khusnun, Krisdoharsoyo, Oya Somantri, Hasan Natapermana dan lain-lain, Rusyad dengan tawakkal mempelopori adanya Universitas Islam Pertama di Bandung. Sementara menggunakan gedung bekas kantor Masyumi di jalan Abdul Muis. Kemudian Prof. Sadali dan Ir. Nukman membangun lokal pertama dari Universitas yang sekarang bernama Unisba ini.
Orang mulai kenal siapa Rusyad Nurdin itu sebenarnya. Dengan tidak ragu-ragu ITB memintanya untuk menjadi dosen agama ITB.
Dia diperlukan di berbagai kota di Jawa Barat, di Jakarta, di Surabaya, Yogyakarta, dan lain-lain oleh urat-urat masyarakat untuk memberi tuntunan rohani. Tapi tidak kurang pula di mesjid Salman dan perguruan-perguruan tinggi lainnya oleh calon-calon pimpinan ummat di masa depan. Pembinaan fondamen manusiawi bagi bangsa-bangsa dan negara.
Ustad Rusyad mengatakan bahwa yang berperang itu bukanlah jenderal-jenderal saja, tapi juga dan tidak kurang pentingnya prajurit-prajurit; dan Ustadz Rusyad senang berperang sebagai prajurit. Tapi seorang prajurit yang memegang bendera, tanpa samar-samar!
Apa senjatanya? Ilmu, keyakinan, dan akhlak!
Akhlakul karimah
Kalau senjata api bisa menghancurkan musuh banyak, akhlakul karimah, bisa menjadikan lawan jadi kawan.
Dan bukankah tidak ada orang yang lebih baik perkataannya daripada seorang yang mengajak ke jalan Allah dan beramal saleh dan berkata sesungguhnya aku ini termasuk orang yang berserah diri kepada Allah SWT.
Tolaklah dengan cara yang lebih baik, maka tiba-tiba orang yang antara kamu dan dia terdapat permusuhan itu pun seolah-olah menjadi teman yang sangat setia.
Inilah yang dipegang Ustadz Rusyad Nurdin dapat terus lagi menuntun ummat, yang amat menghajatkan bimbingannya, amin.

A. Latief Muchtar:
Mengenal KHM. Rusyad Nurdin dari Meneer ke Al-Ustadz

Al-Ustadz M. Rusyad Nurdin adalah salah seorang guru saya ketika pertama kali saya memasuki pendidikan formal, Pendis (Pendidikan Islam) di bawah pimpinan Bapak M. Natsir. Beliau dipanggil Meneer Rusyad selaku guru di Pendis yang dihormati. Panggilan Meneer yang berarti tuan menunjukan masih dominannya bahasa Belanda karena memeang Pendis didirikan untuk mencetak kaum intelektual Muslim pada jaman penjajahan Belanda. Pendis mengambil tempat di jl. Pangeran Sumedang, yang kini berubah namanya menjadi Jl. Otto Iskandardinata, dan tempatnya kini dipakai oleh Panin Bank.
Pada zaman Jepang sampai proklamasi kemerdekaan Indonesia, tempat pendis ini menjadi tempat Pesantren Persatuan Islam di bawah pimpinan almarhun KHE. Abdurrahman. Pendidik M. Rusyad Nurdin tidak lagi dipanggil meneer, tetapi dipanggil ustadz, karena beliau menjadi guru pesantren yang mengajar mata pelajaran agama dan umum.
Sungguhpun saya sudah mengenal dan bergaul lama dengan al-Ustadz M. Rusyad Nurdin, namun saya tidak tahu persis asal-usul beliau, bagaimana beliau sebagai seorang perantau dari daerah seberang, Sumatera Barat, bisa betah dan terpikat oleh Persis sebagai mujaddid. Mungkin diantara sebabnya ialah bahwa beliau termasuk yang tidak suka menceritakan keadaan dirinya, apalagi membanggakannya. Inilah kesan saya yang pertama.
Selama saya belajar di Pesantren Persatuan Islam pada zaman Jepang, al-Ustadz M. Rusyad Nurdin masih bujangan dan tinggal seorang diri di pesantren yang terletak di jalan Pangeran Sumedang itu. Keadaan ini memberi kesan kepada saya, bahwa beliau hidup sederhana dan prihatin di rantau orang, bahkan kesederhanaannya itu menjadi wataknya. Kesederhanaan itu terpantul dalam sikap, penampilan, tingkah laku dan cara berpakaian. Kesederhanaan itu terpantul dalam sikap, penampilan, tingkah laku dan cara berpakaian. Kesederhanaan ini dipertahankannya dalam segala situasi dan kondisi yang berubah sepanjang zaman yang merentang sampai usia senja beliau.
Sikap dan penampilan yang konstan ini menimbulkan kesan berikutnya, bahwa beliau mempunyai watak istiqamah, sekaligus memancarkan jiwa yang mutmainnah, tidak goyah dalam akidah, ibadah, bahkan dalam pendirian sikap siyasah sebagai perwujudan nilai segi mu’amalah.
Al-Ustadz Rusyad Nurdin sebagai guru, pendidik, dan dosen di pelbagai perguruan Tinggi Umum dalam mata kuliah Agama Islam dan Akhlak (Etika) menampilkan seorang yang berwibawa dan memikat, bahkan berbekas, sehingga hasilnya dapat kita rasakan cukup kondusif untuk pembinaan agama masa selanjutnya.
Sebagai pendidik, beliau tidak hanya mendidik mental spiritual keagamaan pada zaman Jepang di Pesantren Persis, tetapi juga mengasuh murid-muridnya dalam kesehatan jasmani, berolah raga di lapangan Pasar Pungkur dulu. Menghadapi revolusi fisik tahun 1945, beliau mempersiapkan murid-murid pesantren dan para pemuda lainnya untuk ketahanan fisik yang disebut kioreng atau latihan bela diri pada waktu itu. Waktu revolusi beliau sendiri menjadi komandan Hizbullah dengan membawa serta anak buahnya.
Al-Ustadz Rusyad Nurdin sebagai mubaligh atau dai mempunyai teknik tersendiri, yakni mengakhiri uraiannya pada saat orang sedang senang-senangnya memperhatikan uraian beliau. Pidato, ceramah, atau khutvahnya singkat, tidak bertele-tele, namun mengandung mutiara hikmah yang mengesankan dan membekas karena disampaikan dalam tutur bahasa yang mudah difahami, dengan gaya dan intonasi yang meyakinkan. Penampilan ini selalu menimbulkan rasa penasaran bagi para pendengarnya.
Sebagai pemimpin partai politik di masa lampau dan pemimpin di masyarakat sampai sekarang, Al-Ustadz Rusyad Nurdin mempunyai akar ke masyarakat muslim, khususnya di Jawa Barat sungguh pun beliau bukan berasal dari tatar Sunda. Namun demikian, beliau tidak ambisius, tidak suka menonjolkan diri, tidak hubbuddunya wa riyasah, tetap komitmen kepada al-haq, istiqamah dalam pendirian, dan tidak pernah berhenti dalam menegakan yang ma’ruf dan menangkal yang munkar.
Sebagai kepala keluarga, Al-Ustadz Rusyad Nurdin berhasil dalam membina keluarga yang sakinah, tentram dan harmonis sungguhpun putera puterinya belasan, karena didampingi seorang ibu yang penuh mawaddah wa rahmah.
Berbahagialah Al-Ustadz Rusyad Nurdin, karena sudah banyak amal saleh yang diberikan kepada ummat sepanjang sejarah hidup dan perjuangannya, sehingga mudah-mudahan dapat dipertanggungjawabkan sebagaimana diungkapkan oleh Ali bin Abu Thalib r.a. :
“Yang bodoh jangan ditanya mengapa mereka tidak belajar, sehingga ditanya dulu ulama mengapa mereka tidak mengajar.”

• A. Latief Mukhtar adalah Ktua Umum PP. Persis Periode …

Jalaludin Rahmat:
KHM. Rusyad Nurdin Dai Reformis dan Nonkorformis

Ada seorang Pemuda Surabaya pindah ke Bandung. Pengalaman pertama yang menarik perhatiannya adalah shalat di mesjid Persis, di Pajagalan. Mesjid itu, baginya, mesjid yang aneh – jauh berbeda dari suasana tradisional seperti yang terdapat di mesjid-mesjid di Jawa Timur. Menjelang Jum’at, tidak ia dengar gemuruh bacaan shalawat alau AL-Quran. Tidak ada suara beduk, tidak ada azan awal. Lalu muncul khatib dengan pakaian seadanya- tanpa sorban, tanpa jubah, tanpa baju takwa yang tradisional, juga …tanpa tongkat. Hatinya mulai resah. Ia tidak merasa pas berada di situ.
Tetapi ketika khatib mulai berkhutbah, ia terpesona. Khatib itu menyentuh serabut-serabut hatinya yang paling halus. Ia hampir menangis. Jum’at berikutnya, ia datang lagi ke situ. Sekarang, khatib berbicara dalam dua bahasa. Khutbah pertama, bahasa Indonesia; khutbah kedua bahasa Sunda (yang tentu saja tidak ia pahami). Kali ini, khatib berbicara dengan fasih tentang tafsir Al-Quran. Jumat berikutnya lagi, ia mendengar khatib yang suaranya keras, sampai nafasnya terasa menyapu rambut arek-arek Suroboyo ini – yang kebetulan duduk di depan mimbar. Khatib ini pun menakjubkan. Ia rupanya anggota konstituante. Ia berbicara tentang ideologi politik Islam, dengan bahasa yang sederhana, tetapi “menyetrum”.
Setelah terus menerus shalat Jum’at di mesjid Persis itu, ia mulai mengenal para khatibnya. Khatib yang spesialisasinya akhlak adalah Ustadz Rusyad Nurdin; khatib dua bahasa adalah Ustadz Abdurrahman; khatib ideologi politik adalah Ustadz Isa Anshari. Ada lagi khatib-khatib yang lain, dengan gaya dan keahlian masing-masing. “Sebuah tim yang lengkap”, kata pemuda Surabaya itu. Secara perlahan-lahan, ia mulai diraksuki faham reformisme. Kini, pemuda itu sudah tidak muda lagi. Ia bernama Ahmad Masyur Suryanegara. Ketua Jurusan Sejarah Unpad dan Muballigh sekaligus.
“Sayang” ujar Mansur, “Tim itu sekarang sudah tidak lengkap lagi” Mesjid Persis tidak lagi mempesona seperti dulu. Banyak diantara mubaligh-mubaligh Persis yang dikaguminya sudah dipanggil Allah SWT., :Ustadz Abdurrahman, Ustadz Isa Anshari, Ustadz Isa Anshari, Ustadz Qomarrudin Shaleh. Yang masih dapat dilihatnya dan didengarnya tinggal Ustadz Rusyad Nurdin. Kapan saja ia melihat Ustadz Rusyad Nurdin, ia seakan-akan melihat sebuah dunia yang makin pudar, dunia masa lalunya. Sementara itu, dunia barunya belum lahir.
Pelajaran dari Ustadz Rusyad
Betulkah Ustadz Rusyad mewakili dunia Islam yang lalu? Betulkah ruh reformisme Ustadz Rusyad telah menjadi anakronisme? Betulkah Ustadz Rusyad mencerminkan mentari yang hampir tenggelam, seperti dilukiskan Goethe (dan dikutif Ustadz Isa Anshari dalam sebuah bukunya):
Niedergegangen ist die Sonne
Doch im Western glanzt es immer
Wissen ich wohl wie lange
Dauert noch der goldene Schimmer

(Sudah tenggelam sang surya
Di Barat ia masih berkilau
Kuingin tahu gerangan berapa lama
Cahaya emas itu bakal berjaya)

Seperti Ahmad Mansur Suryanegara, saya menjadi pengagum Ustadz Rusyad. Saya terharu ketika mendengar ceramahnya di Unpad. Waktu itu saya duduk di lapangan Unpad, sebagai peserta pramahasiswa yang melelahkan. Saya tidak ingat lagi apa yang beliau ingatkan. Saya hanya ingat pesannya tentang bahaya ilmu yang dijauhkan dari nilai-nilai moral agama. Saya terkesan dengan bahasa Indonesianya yang jernih, jelas dan menyentuh. Saya takjub dengan caranya mengisahkan hadits Nabi saw. Yang naratif: “Pada suatu hari di jaman Rasulullah saw . . . dst” saya terpesona dengan kefasihannya melukiskan degradasi kemanusiaan di dunia barat. Ketika kemudian saya menjadi mubaligh, saya berusaha menirunya dan saya gagal.
. . . Ustadz Rusyad adalah matahri yang sedang naik. Saya ingin menyebut dua hal saja dalam ceramahnya yang bukan saja sangat relevan dengan zaman. Teapi juga mengilhami (inspiring) terapi terhadap krisis zaman ini.
Ceramah yang menyentuh hati. Gaya khas Ustadz Rusyad adalah pembicaraan yang menyentuh hati, yang menimbulkan keharuan, yang padat dan serius. Dengan wajah yang tenang misalnya, Ustadz Rusyad berkisah, “Pada suatu hari di zaman Rasulullah saw., diberitakan kepadanya tentang seorang wanita yang shalat di malam hari dan puasa di siang hari, tetapi sering menyakiti tetangganya. Bagaimana perempuan itu ya Rasulullah- kata sahabat-sahabatnya”. Ustadz Rusyad berhenti sejenak. Pendengar diajak cemas, menunggu jawaban Rasul yang mulia. Ustadz Rusyad melanjutkan, “Rasulullah berkata: IA DI NERAKA”. Hadirin terhenyak; ucapan Rasulullah –yang disampaian Ustadz Rusyad- menyobekan suatu sudut dalam hati mereka.
Ustadz Rusyad sering mengutip kejadian-kejadian aktual yang mempunyai nilai human interest. Kadang-kadang yang dikisahkan adalah tragedi anak manusia yang meninggalkan agama. Apa pun yang dikisahkannya, yang ditujunya adalah jantung kita, hati kita yang paling dalam. Tidak jarang orang meneteskan air mata karena khotbahnya. Tidak sedikit yang pulang dari pengajiannya membawa hati yang baru, hati yang disinari hidayah.
Gaya bicara Ustadz Rusyad meniru sunnah Rasulullah saw., bukankah dikisahkan bahwa Rasulullah adalah orang yang paling banyak tertawa, kecuali ketika ia sedang berkhutbah? Bukankah ‘Irbadh bin Sariyah pernah bercerita, “Suatu hari Rasulullah saw., menasihati kamu dengan nasihat yang menggetarkan hati kami dan meneteskan air mata kami. Para saabat berkata- Ya Rasulullah seakan-akan ini nasihat yang penghabisan. Berilah kami wasiat”? buknkah Nabi saw., pernah mengumpamakan dirinya sebagai orang yang berlari memperingatkan kaumnya tentang musuh yang akan menyerang mereka di balik bukit?
Begitulah gaya Rasulullah berkhotbah. Gaya ini sekarang ditinggalkan oleh kebanyakan mubaligh. Ustadz Rusyad tidak. Ia masih berpegang pada “pakem” dakwah nabawiyah. Para mubaligh kini tampil dengan gaya “yang ringan dan lucu.” Mereka tidak lagi menyentuh hati; mereka berusaha mengocok perut. Tuntutan pun berubah menjadi tontonan. Menarik sekali, ketika beberapa orang pelawak berusaha menjadi mubaligh, banyak mubaligh berusaha menjadi pelawak. Yang menyakitkan lagi, kadang-kadang yang dijadikan lelucon itu ayat-ayat Al-Quran yang suci (perhatikan, misalnya, kisah Qul A’udzu birrabbin nasi) dengan tekanan pada kata si, yang tidak sanggup saya turunkan lagi di sini). Boleh jadi para mubaligh itu memilih gaya lawak untuk memenuhi “selera konsumen”. Boleh jadi juga mereka ingin memberikan hiburan-hiburan kepada umat yang tengah dirundung malang. Apa pun yang terjadi, menjadikan ayat-ayat Allah sebagai permainan adalah tindakan yang keji. “Tinggalkanlah orang-orang yang menjadikan agama mereka sebagai permainan dan hiburan serta tertipu oleh kehidupan dunia.” (Al-Quran, 6: 51).
Saya tidak ingin gaya Ustadz Rusyad – yang padat, serius, dan menyentuh hati – itu menjadi mentari yang terpendam. Sebab bila gaya itu hilang, kita kehilangan sunnah Rasulullah saw. Ceramah Ustadz Rusyad adalah contoh sunnah Nabi yang masih hidup. Kini, di saat hati mengeras karena materialisme, kita memerlukan siraman ruhani yang mendalam – bukan dagelan yang dangkal.
Integritas Muslim. Spesialisasi Ustadz Rusyad adalah akhlak. Yang sering beliau tekankan dalam ceramah-ceramahnya adalah integritas Muslim kepribadian yang tegak istiqamah dalam aqidah Islamiyah, yang tidak dapat dibeli, yang tidak bisa ditakut-takuti. Ustadz Rusyad sering mengeritik para ulama yang sudah menjual keyakinannya kepada para penguasa, yang fatwanya mudah dibeli. “Ketahuilah mereka itu perampok” begitu Ustadz Rusyad mengutip hadits Rasulullah saw.
Pada saat yang sama, Ustadz Rusyad sering memberi contoh para penguasa Muslim yang memiliki integritas. Mereka menegakan keadilan Islam tanpa pilih bulu. Saya masih terkesan bagaimana Ustadz Rusyad mengisahkan Khalifah Ali bin Abi Thalib yang diajukan ke pengadilan karena urusan baju besinya yang hilang; juga ketika beliau bercerita tentang anekdot-anekdot dari kehidupan Umar bin Khatkhab. Beliau bercerita tentang tindakan Umar yang mengambil kalung dari istrinya, sebab kalung itu dihadiahkan orang –menurut Umar- karena kedudukan Umar sebagai khalifah. Lewat cerita itu, beliau mengecam korupsi-korupsi bukan hanya menggelapkan uang kotor. Korupsi juga memanfaatkan fasilitas yang dimilikinya untuk memperkaya diri. Ustadz Rusyad mengingatkan kita pada teori Ibnu Khaldun, ketika ia menuturkan sosiologi kota. Para penguasa –menurut Ibnu Khaldun- akan mudah menjadi kaya. Mereka mempunyai wewenang, dan banyak orang yang membutuhkan wewenang yang dimilikinya. Wewenang adalah komiditi yang tidak pernah rugi untuk diperjualbelikan.
Tema ulama yang istiqomah selayaknya kita hidupkan lagi. Jangan biarkan Ustadz Rusyad sendirian. Jangan biarkan tema ini menjadi mentari yang tenggelam. Tidak ada bencana yang lebih besar bagi umat Islam selain munculnya “ulama upahan” (mutathafilin), ‘ulama sponsor yang fatwanya “kallun ‘ala mawlah”. Kini kita perlu mengembalikan lagi ‘ulama kepada umat. ‘ikutilah “ulama sebelum sebelum mereka mengikuti dunia”, kata Rasulullah saw. Sahabat bertanya: Apa artinya mengikuti dunia ya Rasulullah? Nabi yang mulia menjawab: Ittiba’u s-sulton (mengikuti penguasa).
Ustadz Rusyad adalah Al-Ghazali masa kini. Kecaman Al-Ghazali pada ulama su pada Ihya Ulum-ad-Din jilid I adalah kecaman Ustadz Rusyad juga.
Tema penguasa yang adil adalah tema yang juga diajarkan Ustadz Rusyad untuk kita semua. Mengupas tema ini memang mengandung resiko yang lebih besar, ketimbang berbicara tentang pedoman keluarga sakinah. Tidak semua mubaligh tertarik atau memiliki keberanian. Kita memerlukan Rusyad-Rusyad yang baru. Bukankah jelas satu tugas pelanjut da’wah nabawiyah adalah “meringankan beban atau penderitaan ummat dan membebaskan mereka dari belenggu-belenggu yang memasung (kebebasan) mereka” (Al-A’raf: 157).
Khulashah
Dari segi waktu, Ustadz Rusyad memang mewakili generasi yang tengah pergi. Ia mencerminkan mentari yang sedang tenggelam. Dari segi tema akhlak yang mulia, ia tetap tegak sebagai pengawal moral yang kokoh. Ia tidak akan pernah tenggelam. Ia akan dikenang terus. Seorang Rusyad boleh meninggalkan kita, akan tetapi akhlak Rusyad dalam menyampaikan ceramahnya-sentuhan hati, integritas Muslim – tidak boleh menjadi mentari yang tenggelam.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar